Halua Kenari

Halua Kenari


Halua Kenari

Rp35000 (200 gram)

Sangihe, Sulawesi Utara
Keterangan
Pulau Sangihe yang berlokasi di utara negara kepulauan Indonesia menyimpan keindahan di daratan pulau hingga lautnya. Pepohonan kelapa yang menghiasi pulau Sangihe ini melengkapi penghidupan seluruh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Selain kelapa, adapun pohon yang berbuah kenari yang pohonnya memiliki fungsi ekologis ruang hidup warga untuk konservasi hutan di kepulauan hingga penunjang kebutuhan protein nabati pun tumbuh subur di pulau ini. Biasa kita menyebut buah tersebut dengan kacang kenari yang dipanen langsung dari warga pulau Sangihe diolah menjadi cemilan khas Sulawesi Utara yakni ""Halua Kenari"". Cara pembuatannya dengan bahan-bahan alami yang ada di pulau Sangihe seperti tepung ketan, kelapa parut, gula merah ini menjadi satu adonan untuk membalut kacang kenari menghasilkan rasa yang gurih serta rasa manis yang pas. Tak hanya mengandalkan hasil panen kelapa dan kacang kenari sebab itu adalah sebagian kecil dari kekayaan alam yang tumbuh di atas area daratan pulau. Mengingat pulau Sangihe pun termasuk pulau kecil di Indonesia dengan luasan 700an Km persegi maka sebagian besar warga lainnya dalam pertahanan hidup mengandalkan hasil laut yang mengitari pulau Sangihe. Keberlimpahan hasil laut dengan ikan yang diperoleh para nelayan Sangihe ini melengkapi kebutuhan protein hewani yang diberi oleh alam sekitarnya, sebab luasan laut secara administratif Sangihe justru lebih luas dari daratannya. Selain mengandalkan perikanan, warga lainnya juga bergerak di sektor pariwisata seperti area penyelaman (scuba diving) untuk para turis lokal hingga internasional. Sehingga, dari semua yang dimiliki warga Sangihe inilah yang menjadi alasan kuat untuk tidak merusak alamnya sendiri. Akan tetapi, sejak perencanaan operasional tambang emas di pulau Sangihe yang area konsesinya hampir setengah tubuh pulau tersebut membuat warga setempat tak diam. Perencanaan itu dilakukan oleh PT. Tambang Mas Sangihe (TMS) ini memporakporandakan keadaan warga Sangihe yang selama ini hidup dalam kenyamanan akan alam yang indah hingga hasil pertanian dan perikanan yang melimpah. Berawal dari pemaksaan kehendak pihak perusahaan untuk beroprasi maka warga pun mengencangkan sabuk penolakan yang terhimpun dalam gerakan ""Save Sangihe Island"" (SSI). Sebab, jika dibiarkan maka pulau Sangihe hingga 2054 sesuai izin tambang beroperasi yang diberi pemerintah maka penderitaan akan beban daya rusak tambang emas akan menimpa warga, "Peradaban Sangihe tidak dibangun oleh tambang, melainkan perikanan dan perkebunan. Kami bahagia-bahagia saja tanpa tambang. Masa depan pulau ini penting untuk kami wariskan kepada anak-cucu kami,” ujar Alfred pada tahun 2021 sebagai koordinator SSI sebagai pertegas bahwa penolakan akan tambang emas ini sebagai amanah akan ajaran leluhur orang Minahasa di Sulawesi Utara yang telah ada dan turun temurun. Aksi penolakan ini juga didedikasikan aksi penyelamatan dari warga pulau Sangihe sendiri. Segala upaya dikerahkan sampai kemenangan kecil diraih mengingat regulasi dalan negri ini tidak boleh menambang di pulau kecil. Kemenangan yang patut dirayakan dan sebagai acuan pulau-pulau kecil lainnya di Indonesia yang terdampak aktivitas pertambangan. Kemenangan yang harus dirawat dan dilengkapi dengan mencicipi cemilan khas pulau Sangihe yang tersedia di Kedai Jatam yakni Halua Kenari Putri. Sebab, dengan membeli maka anda telah berkontribusi untuk penyelamatan pulau Sangihe bisa tetapi lestari dan indah hingga antar generasi yang akan datang.

Kembali