Minyak Kelapa Wawonii

Minyak Kelapa Wawonii


Minyak Kelapa Wawonii

Rp20000 (250 miliiter)

Pulau Wawonii, Konawe Kepulauan, Sulawesi Tenggara
Keterangan

Di sudut kaki tubuh yang sebesar pulau Sulawesi pada sisi tenggara, siapa sangka ada pulau kecil yang tergolong kecil yang melengkapi kepulauan di Indonesia. Pulau itu dinamakan pulau Wawonii, dengan area luasan +/-800 km persegi ini berawal nama dalam unsur ekologis dengan tanaman kelapa.

“Wawo” artinya atas dan “ni” artinya kelapa, sehingga bisa ditafsirkan sebagai pulau yang menumbuhkan pepohonan kelapa pada tiap sudut pulau.

Selain unsur ekologis berupa pohon kelapa yang melekat pada penamaan pulau Wawonii, keunikan pohon kelapa disana yakni mampu bercabang hingga 3 cabang jika diukur dari tanah ke atas percabangan pohon dengan tinggi batang pohon kelapa 20 meter keatas. Keunikan pepohonan kelapa yang ada di Wawonii menghasilkan minyak goreng berbahan kelapa asli yang menyehatkan bagi tubuh kita, selain itu bersih dari pengelolaan proses eksploitasi industri ekstraktif hingga perampasan hak hidup makhluk hidup lainnya.

Adapun jarak tempuh untuk mengelilingi maka cukup memakan waktu 5 jam sehingga dengan jumlah tersebut maka pulau Wawonii dikategorikan pulau kecil di Indonesia. Meskipun dikategorikan demikian dalam kondisi geografisnya, pulau Wawonii juga ruang hidup bagi warga yang tinggal di dalamnya.

Berbagai macam rempah seperti pala, cengkeh hingga merica pun tumbuh di pulau ini. Selain rempah, adapun kebun kelapa hingga jambu mete pun menghiasi ruang hidup pada sisi daratan pulau milik warga setempat ini sangat mencukupi kebutuhan dalam bertahan hidup. Sajian hasil pertanian di daratan pulau Wawonii juga dilengkapi dengan hasil laut yang melimpah. Garis pantai yang mengelilingi pulau Wawonii ini menampung hasil perikanan yang melimpah, misalnya ikan tuna, cakalang, kakap, cumi hingga bobarak (ikan putih) menjadi hasil tangkapan laut warga untuk memenuhi kebutuhan protein hewani tiap rumah tangga yang ada di pulau Wawonii.

Adapun kacang mete khas wawonii sebagai olahan lanjut dari jambu mete yang tumbuh dari dataran tinggi (perbukitan) di pulau ini pun memiliki ciri khas yang unik. Tiap biji kacang mete yang kecil seukuran kuku manusia ini menjadi ciri khas yang tidak bisa diremehkan. Pasalnya, ketika diolah lanjut dan digoreng jadi cemilan maka kita akan mendapat kenikmatan atas rasa gurih dari kacang mete yang dipanen dari pulau Wawonii. Kenikmatan yang tak kalah sedap jika disanding dengan hasil tangkapan laut yang diperoleh para nelayan.

Setiap hasil pertanian hingga tangkapan laut yang diperoleh di pulau Wawonii pada dasarnya telah berangsur lama hingga antar generasi. Akan tetapi, sumber hasil pertanian dan tangkapan ikan di laut itu di beberapa bagian rusak akibat aktivitas industri nikel yang beroperasi seperti PT Gema Kreasi Perdana (GKP) yang memiliki luas konsesi 700 hektar. Belum lagi efek jangka panjang aktivitas industri nikel yang larut ke arah laut berupa tanah liat dari area perbukitan yang digunduli terlebih dahulu oleh pihak perusahaan. Sehingga ketika hujan maka air hujan membawa sisa air serta lumpur tanah hingga ke pesisir pulau Wawonii khususnya desa Sukarela Jaya di bagian Wawonii Tenggara.

Padahal, selain hasil pertanian dan tangkapan laut dari nelayan Wawonii. Pulau ini memiliki keindahan yang tak kalah dengan pulau Bali karena memiliki area pariwisata yang menakjubkan. Pulau yang menampung bentang alam dalam wujud air terjun, hingga area bukit bebatuan tebing jenis karst yang bisa digunakan untuk aktivitas panjat tebing. Selain untuk beraktivitas panjat tebing, area karst di pulau Wawonii juga menampung sumber mata air dengan nama Mata Air Banda.


Kembali