Keterangan
Ngopi, suatu aktivitas yang paling sering di dengar khalayak umum. Dengan ngopi, maka lahirlah ide-ide dari yang paling sederhana hingga ide brilian. Dengan ngopi, ide-ide bisa terlaksana segera tanpa khawatir berlebihan. Bahkan, jika tak mampu kopi murni seperti metode V60, americano ataupun esspreso maka tiap bar yang kita kunjungi gerainya maka akan menawarkan alternatif seperti mencampur susu murni agar mengurangi kadar kaffeinnya. Tiap rasa kopi yang kita nikmati pun selalu memiliki cerita yang tak kalah bermakna. Dari perjuangan para petani merawat kebun kopi hingga biji kopi istimewa sampai di tangan kita. Maka begitu pula perjuangan para petani dari Dairi yang mempertahankan kebunnya untuk melanjutkan kenikmatan rasa kopi. Kebun kopi yang menumbuhkan varietas robusta ini memiliki cita rasa yang telah mendunia, kerap kita menyebutnya kopi Sidikalang yang cita rasanya mendunia itu pun secara geografis terletak di Kabupaten Dairi-Sumatera Utara.
Kopi Dairi adalah salah satu hasil pertanian di Kabupaten Dairi yang masih dipertahankan para petaninya. Pertahanan yang tak lagi biasa sebab ancaman dari pihak yang ingin merusak kebun pun seperti ada di pelupuk mata para petani kopi Dairi. Padahal, mereka tidak hanya menanam satu jenis tanaman seperti kopi saja. Melainkan, para petani ini begitu cerdas mengelola lahan pertaniannya dengan metode terasiring dengan jenis tanaman lain seperti petai, lamtoro, buah nanas hingga sayur-mayur yang dapat dipanen dalam jangka pendek (mingguan). Selain itu, area lahan pertanian yang dekat dengan jenis tanaman lain seperti durian di desa Paronggil pun menuai hasil yang melimpah.
Aktivitas dan penghidupan masyarakat sumber ekonominya adalah berasal dari pohon durian yang terkenal yakni durian Parongil. Parongil sendiri merupakan 1 wilayah yang berada di kecamatan Silima Pungga-Pungga, kabupaten Dairi Sumatera Utara. Wilayah Parongil dan desa-desa di Kecamatan Silima Pungga-Punga di kapling oleh pertambangan timah hitam dengan metode pngerukan melalui bawah tanah yang dioeprasikan PT. Dairi Prima Mineral (DPM) dan perusahaan asal Tiongkok NFC China. Ancaman aktivitas pertambangan bawah tanah, lalu-lalang kendaraan berat yang menggangu aktivitas warga, mengacam sumber air, hingga debu yang menggangu pertumbuhan pohon durian. Sehingga, alasan mengapa warga terutama petani menolak rayuan atau iming-iming ganti rugi karena pohon durian merupakan salah satu sumber ekonomi warga, yakni ekonomi tanding melawan rayuan ekonomi pertambangan. Warga Dairi menyebutnya "ekonomi warga" yang sejati ini versus ekonomi pertambangan.
Sebagai contoh warga terdampak, adapun Opung Rainim boru purba (59 th) yang memiliki 7 anak dan 6 cucu. Perempuan suku Batak ini memilih ekonomi pertanian saat tawaran menggiurkan dari ekonomi tambang PT.DPM datang. Bayangkan saja, satu pohon durian miliknya yang berukuran besar bisa mengahasilkan 500 ratusan buah. Untuk menjual durian. masyarakat biasa menggunakan model 1 angkat (sebutan setempat) yang berisi 2 buah durian untuk ukuran sedang. Adapun harga untuk 1 angkat yang berisi hasil panen durian tersebut yakni dibandrol 10 ribu rupiah.Biasanya dijual kepada pengumpul atau toke (sebutan setempat) lalu dibawa ke kota-kota besar seperti Medan dan sekitarnya. Kelas durian Parongil diatas kelas durian Tiga Lingga dan Singkil. Jika musim panen setahun sekali tiba, 50 pohonnya berbuah dan menghasilkan 40 juta rupiah untuknya.
Menurut pengalamannya dalam 15 tahun terkahir ini, tiap empat bulan Opung Rainim tidak hanya bergantung pada hasil panen durian sebab beliau juga menanam jenis tanaman pangan lainnya. Contoh lainnya, ia bisa panen jagung dari setengah hektar lahan berikutnya. Sehingga tiap empat bulan ia dapat keuntungan bersih 6 juta rupiah setelah dipotong modal dan biaya perawatan. Jika setahun 2 kali panen jagung, maka ia membawa pulang 12 juta tiap tahun dengan keuntungan bersih. Pada tiap bulan pun ia juga panen 50 Kg kopi robusta Sidikalang yang masa panen besar tiap bulan 12 hingga 250 kg di lahan setengah hektar lainnya. Jadi tiap bulan ditambah penghasilan panen besar diujung tahun ia bisa mendapat uang 14,4 juta setahun, apalagi harga kopi ternama ini bisa mencapai 25 ribu perkilo.
Bayangkan satu kali lagi, dalam setahun saja ia mendapat total 66 juta rupiah dari 3 komoditas ini maka tiap bulan, jika mau dikonversi menjadi gaji bulanan. Terhitung sudah opung bergaji hampir 6 juta rupiah tiap bulan. Jumlah nominal itu bisa lebih besar lagi karena opung tak hanya menanam jagung, durian dan kopi tapi juga komoditas pertanian lain seperti kapulaga, kelapa, pisang, nanas, kakao, kemiri, cabe dan jahe. Ingat, itu semua belum termasuk ternak ayam dan babi.
Inilah ‘gaji’ 480 keluarga petani lainnya di Desa Pandiangan, Parongil, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Hampir 99 persen mereka adalah Petani seperti Opung Rainim. Kini Tambang seng dan timah hitam milik Aburizal Bakrie dan Nonferrous China Metals datang menawarkan ekonomi dari tambang, mengambil tanah dan menebar janji akan menjadikan warga karyawan ? Berapa gaji karyawan tambang ? Hanya 3 juta perbulan ?
“Bukannya sombong, bawa pulang tambangmu, jadilah petani saja disini, nanti Tuhan dan Tanah yang menggajimu !” Ujar Opung setengah tertawa atas tawaran perusahaan tambang yang kerap membawa iming-iming kesejahteraan semu dan sesaat.