Keterangan
Kehangatan hasil olahan rempah dari para perempuan Kartini Kendeng dapat kita peroleh dari sari jamu siap seduh yang ada dalam etalase Kedai JATAM. Sari jamu rempah yang diolah dengan bahan yang menyehatkan seperti jahe, kencur, kunyit hingga empon-empon ini akan melengkapi kebutuhan kita untuk menguatkan imunitas tubuh tanpa bahan pengawet kimia buatan. Adapun produk sari jamu ini hadir untuk menjaga kesehatan kita, jamu ini didedikasikan sebagai alat perjuangan warga Kendeng untuk mempertahankan area ruang hidup mereka di pegunungan Kendeng. Sebuah pegunungan dengan jenis karst atau batuan kapur ini memiliki fungsi ekologis yang menopang kehidupan warga yang menetap disana sejak lama. Sebab, kawasan karst dengan pegunungan yang membentang dari Kudus hingga Blora di Jawa Tenggah ini telah memberi sumbangsih ketahanan pangan yang memiliki nilai keberlanjutan antar generasi sejak dulu kala. Tradisi pangan antar generasi ini dipertahankan dengan keyakinan yang begitu kuat dari suku setempat yakni Samin. Sehingga, dengan membeli serta mengonsumsi jamu racikan Kartini Kendeng berarti kita telah berpihak pada pertahanan ""Kendeng Lestari".
Dalam mempertahankan kelestarian pegunungan Kendeng, maka JMPPK (Jaringan Masyarakat Pegunungan Kendeng) pun membuat kaos yang dapat kita miliki sebagai penguatan dalam upaya penyelamatan area kawasan karst Kendeng. Tak berhenti dalam pesan penguatan ""Kendeng Lestari"", adapun petani yang kesehariannya merawat padi di area persawahan kawasan Kendeng dengan perawatan alamiah (organik) sehingga dipanen pada masanya hingga dipasarkan melalui kanal produk berdaya pulih di Kedai JATAM. Jenis beras yang ada yakni mentik susu dan beras merah. Mengingat area pertanian di kawasan Kendeng menyumpang hampir 1/3 suplai hasil tani baik berupa beras, rempah, sayuran hingga kebutuhan sandang berupa kayu jati maka tidak ada alasan lain untuk menerima tambang hadir di daerah Kendeng. Sebab, warga setempat tidak membutuhkan pekerjaan diluar skill bertahan hidup warga yakni cukup bertani, bukan pertambangan. Hasil pertanian jauh lebih berkelanjutan antar generasi, dan terbukti sejak lama.
Selain hasil pertanian berupa rempah seperti racikan jamu Kartini Kendeng. Keindahan alam Pegunungan Kendeng juga sangat layak dijadikan tempat objek pariwisata. Misalnya gua Pancur, Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini terdapat aliran sumber air dari dalam gua dengan jejeran stalaktit yang meneteskan air. Air tersebut turun ke sungai, dan dimanfaatkan masyarakat untuk irigasi sawah, mandi dan keperluan lainnya. “Ini baru satu gua, masih banyak lagi gua di Gunung Kendeng. Kaya sumber air, punya potensi pariwisata tinggi, situs budaya dan satwa endemik, serta pada kaki Pegunungan Kendeng Utara, Pati, yang hijau oleh persawahan dan lebatnya pepohonan jati"", ujar warga setempat. Bahkan, sekitar empat kilometer dari Gua Pancur ada Gua Wareh dengan air yang mengalir ke sungai yang digunakan oleh warga untuk keperluan sehari-hari baik untuk mandi, mencuci, dan irigasi persawahan. Dari mulut Gua Wareh, terlihat perbukitan Pegunungan Kendeng dan tebing karst, serta aktivitas petani di lahan mereka. Akan tetapi, aktivitas pertanian dan kondisi tanah, bisa berubah karena rencana masuknya perusahaan pertambangan semen. Warga sudah sejahtera dengan bertani, namun terdapat Perusahaan pertambangan semen yang sudah sudah diberi izin oleh Bupati Pati. Kawasan karst pegunungan Kendeng akan rusak, sumber air terancam hilang dan begitu juga ternak dan pertanian warga masyarakat Kendeng.
Pemberian izin dari negara yang diwakilkan pemerintah setempat ini berawal pada tanggal 8 Desember 2014 lalu yang disetujui Bupati Kabupaten Pati Haryanto kepada PT Sahabat Mulia Sakti (SMS). Melalui surat keputusan nomor 660.1/4767 tahun 2014 tersebut maka PT. SMS akan memulai aktivitas pembangunan pabrik semen serta penambangan batu gamping dan batu lempung di Kecamatan Kayen dan Tambakromo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Dengan kondisi itulah, Gunretno selaku anggota Kartini Kendeng sekaligus warga Sukolilo kecewa atas sikap Bupati Kabupaten Pati. Menurutnya konflik masyarakat di Pegunungan Kendeng masih terjadi, sejak hadirnya pertambangan semen yang berdampak rusaknya berbagai kekayaan alam yang ada di Pegunungan Kendeng, terkhususnya sumber air bawah tanahnya. Menurutnya Pemerintah Kabupaten Pati dibutakan nafsu mengeruk batu gamping dan tanah untuk kepentingan pabrik semen. Dan mengusir warga di Pati dari tanah kelahirannya sendiri akibat berbagai persoalan yang muncul akibat pabrik semen.
“Saya ingat janji Pak Jokowi ketika kampanye pemilihan presiden lalu. Ia ingin negeri ini berdikari dan berdaulat pangan. Tapi, apakah janji itu bisa terwujud jika lahan pertanian semakin menyempit dan sumber air pertanian hilang?” tandas Gunretno.
Selain itu, ia menambahkan budaya tani sampai sekarang terbukti punya nilai budaya dan kebersamaan dalam masyarakat suku Samin. Samin Surosentiko sangat gigih mempertahankan bumi pertiwi ini dari penjajahan, terkhususkan penjajahan pada sektor lahan pertanian. Samin Surosentika dan sedulur sikep lainnya mempertahankan lahan pertanian, karena percaya untuk kebutuhan hidup maka masyarakat harus bisa bertani dan mempertahankan lahan pertaniannya.
“Selain kondisi kedaulatan pangan, sedulur sikep juga menjaga hutan. Kami paham bahwa hutan sebagai penyangga dan daerah resapan air. Kami harus menjaga dan memanfaatkannya secara bijaksana,” kata Gunretno untuk menegaskan perjuangan warga Kendeng hingga hari ini. Penegasan yang tak sekedar ucapan belaka, melainkan justru menghadirkan produk jamu sejak 2018 sebagai wujud konkrit mempertahankan tanah sebagai hasil pertanian yang bisa terus menghidupi warga setempat, tanpa lagi bayang-bayang ancaman kerusakan alam akibat aktivitas tambang dan pabrik semen."